
Pada Public Lecture Series yang digelar Universitas Harkat Negeri kali ini menghadirkan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Republik Indonesia Moh Jumhur Hidayat, Jumat (3/7/2026) di Aula Serbaguna, Kampus Universitas Harkat Negeri, jalan Mataram Kota Tegal.
Pada acara yang mengangkat tema “Memperbaiki Lingkungan Hidup, Menjaga Keadilan Antar Generasi” ini dihadiri pula Sekretaris Daerah Kota Tegal, Kepala OJK Tegal, Kepala Perwakilan BI Tegal, Pejabat dan Pimpinan instansi terkait, tokoh dan pegiat lingkungan.
Rektor Universitas Harkat Negeri Tegal, Sudirman Said mengatakan, bahwa interaksi merupakan suatu jalan yang mengantarkan pada kreatifitas, kesempatan emas dan berbagai peluang.
“Bangsa yang berkemajuan memiliki tiga keseimbangan unsur, yakni epistemologi, ekonomi dan ekologi. Ekologi atau lingkungan menjadi faktor yang sangat penting,” ucapnya.
Melalui public lecture yang diadakan, bertemakan “Memperbaiki Lingkungan Hidup, Menjaga Keadilan Antar Generasi” akan memberikan wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana kondisi lingkungan sekarang ini dan seperti apa penanganannya.
Sebagai kampus yang mengedepankan metode penelitian dan praktik, pihaknya mendorong dan mengajak mahasiswa untuk terus menjalin interaksi dengan berbagai kalangan. Termasuk menyiapkan Harkat Negeri untuk terus peduli dan peka terhadap kondisi lingkungan yang ada.
“Kami siap dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bersinergi dan berkolaborasi untuk mewujudkan ekologi yang baik, lingkungan yang semakin hijau,” tuturnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tegal drg Agus Dwi Sulistyantono mengatakan, isu lingkungan hidup saat ini telah menjadi isu strategis, baik pada tingkat global, nasional, maupun daerah.
Persoalan lingkungan bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan, pertumbuhan ekonomi, ketahanan sosial, kesehatan masyarakat, bahkan masa depan generasi yang akan datang.
Dunia saat ini sedang menghadapi tiga
krisis lingkungan utama yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.
Dalam menghadapi ancaman triple planetary crisis, diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat melalui kolaborasi pentahelix.
“Hanya dengan kerja sama yang erat kita mampu membangun ketahanan lingkungan sekaligus mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya.
Pemerintah Kota Tegal terus berupaya menghadirkan berbagai program nyata dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Diantaranya melalui gerakan Mageri Segoro, yaitu penanaman ribuan pohon mangrove di kawasan sabuk pantai Kota Tegal.
Gerakan Caping Cinta, yang berfokus pada penanaman pohon secara serentak di sekolah, perkantoran, dan tempat usaha. setiap lokasi didorong menanam sedikitnya lima pohon.
Pengembangan teknologi ramah lingkungan, khususnya melalui pengelolaan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) di beberapa lokasi serta meluncurkan gerakan Gropyokan Nangani lan Mberesi Sampah, sebuah gerakan yang menggunakan pendekatan orang tua asuh, yaitu dengan melibatkan seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah, Kepala Puskesmas, dan Kepala Sekolah se-Kota Tegal sebagai orang tua asuh bagi masyarakat di 27 Kelurahan.
Menteri Lingkungan Hidup RI Moh Jumhur Hidayat mengatakan, bahwa berbicara mengenai lingkungan tidak hanya pemerintah saja yang berperan, tetapi semua unsur baik masyarakat, pengusaha, akademisi, maupun unsur kelompok pecinta lingkungan. Semuanya harus bahu membahu mewujudkan kembali lingkungan yang baik.
Ia mengungkapkan, kerusakan dan kesalahan lingkungan yang terjadi juga karena berbagai faktor, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha.
Sehingga Jumhur menyebutnya sebagai taubat ekologi, yang diartikan bahwa kesalahan dan kerusakan yang telah diperbuat jangan sampai diulang kembali. Namun harus bisa memperbaiki kerusakan tersebut, dengan cara pemuliaan bumi, mewujudkan lingkungan dan ekologi yang kembali menjadi baik.
“Semua juga turut menyumbang, sehingga ini tidak lagi bicara siapa yang salah tetapi semua unsur harus bergerak untuk satu tujuan yakni pemuliaan bumi,” pungkasnya.
Radio Sebayu