
Sebagai Menteri Lingkungan Hidup yang belum lama dilantik, Moh Jumhur Hidayat dikenal sebagai sosok ramah, dan humoris, yang fokus terhadap berbagai masalah lingkungan yang terjadi.
Seperti kalimat yang disampaikannya yaitu Taubat Ekologi, menjadi salah satu satu upaya untuk mewujudkan lingkungan yang kembali asri, melalui program pemuliaan bumi.
Hal tersebut mencuat saat Dialog Lintas Generasi yang digelar Universitas Harkat Negeri, Jumat sore (3/7/2026) di Kampus 3 Universitas Harkat Negeri, di Padepokan Kalisoga, Slatri, Brebes.
Dialog tersebut dimoderatori William Sabandar yang menjabat sebagai Direktur di Sustainabilitas, Center for Sustainability Studies, Universitas Harkat Negeri Tegal.
Menurut Jumhur, harus diakui bahwa kerusakan lingkungan saat ini merupakan kesalahan seluruh elemen yang ada sebagai bangsa.
“Jadi kalau kita katakan sebagai kesalahan kolektif maka semua bersalah, maka semua harus bertaubat supaya tidak mengulangi kesalahan dan bekerja lebih keras lagi untuk memastikan pemuliaan bumi ini,” ucapnya.
Maka inilah yang menjadi gerakan dan semangat untuk memperbaiki lingkungan atau ekologi.
Bentuk dan caranya bermacam-macam seperti menanam pohon, termasuk penanaman mangrove, membersihkan sungai, memastikan semua kawasan industri taat kepada aturan pengolahan limbah.
Termasuk untuk sektor industri pertambangan, perkebunan, dan sejenisnya harus bisa memastikan tanggung jawab terhadap lingkungannya benar-benar dijunjung tinggi.
“Bisa mereklamasi, penghijauan, penanaman kembali dan lain sebagainya untuk mengembalikan lingkungan seperti sedia kala,” tuturnya.
Hal lain terkait dengan pengelolaan lingkungan yaitu terkait penanganan dan pengolahan sampah.
Perlu diketahui bahwa masih banyak Kabupaten maupun Kota yang masih menggunakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan metode open dumping. Padahal metode tersebut tidak ramah lingkungan dan cenderung menyebabkan kebakaran.
Satu kasus terjadi kebakaran di Tangerang akibat gas metana yang dipicu dari tumpukan sampah. Hal ini harus menjadi perhatian Pemerintah Daerah agar segera melakukan langkah nyata dan strategi untuk merubah metode open dumping menggunakan metode yang ramah lingkungan.
“Saat ini ada fenomena el nino yang diperkirakan akan berlangsung lama. Fenomena ini membuat cuaca terasa panas sehingga beresiko bagi TPA yang masih dengan sistem open dumping an memicu munculnya gas metana,” jelasnya.
William Sabandar menuturkan, dialog ini menjadi ruang diskusi yang hangat karena setiap peserta juga bisa turut menyampaikan saran, masukan, ide ataupun kritik membangun.
Ia menyampaikan, apa yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup terkait dengan pertaubatan ekologi, termasuk keadilan iklim yang bermuara pada masalah lingkungan maka juga turut merangkul permasalahan terkait kemiskinan, ketimpangan, kemitraan sehingga ketika isu tersebut diangkat maka isu-isu kemasyarakatan tersebut juga ikut tertangani.
Namun pada dialog tersebut, William menegaskan, secara prinsip kajian sustainability Harkat Negeri juga turut mendukung dan mendorong segala kebijakan dan program yang berbasis pada upaya mengatasi berbagai ketimpangan, memberikan pekerjaan kepada masyarakat ataupun bersama-sama mengatasi lingkungan atau ekologi melalui pemuliaan bumi.
“Berharap akan ada diskusi atau koordinasi kembali yang lebih mendalam untuk membahas masalah lingkungan dan berkolaborasi melalui upaya nyata,” pungkasnya.
Pada dialog tersebut juga dihadiri Rektor Universitas Harkat Negeri Tegal, Duta Besar New Zealand, tokoh dan praktisi lingkungan, pejabat serta kepala instansi terkait.
Radio Sebayu