
Universitas Harkat Negeri Tegal menggelar Sarasehan 81 Tahun Pancasila “Pancasila diantara Otoritas dan Legitimasi Kekuasaan” di Kampus 3 Universitas Harkat Negeri di Padepokan Kalisoga, Slatri, Brebes, Senin (1/6/2026).
Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, mulai dari tokoh nasional, para Rektor hingga Pejabat Daerah. Turut hadir pula Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah.
Diantaranya Dr. Leo Kleden, SVD, Dosen IFTK Ledalero, Flores, Prof. Dr. Otto Gusti N.M., SVD, Rektor IFTK Lealero, Flores, Rektor Universitas Pancasakti Tegal, Prof. Dr. Taufiqulloh, S.Pd.,M.Hum, Rektor Universitas Muhadi Setiabudi, Brebes, Dr. Roby Setiadi, S.Kom.,M.M., Rektor Universitas Peradaban Bumiayu, Prof. Dr.H. Sutarmin, S.Si.,M.M., Anggota Komisi X DPR RI, Dr. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., Guru Besar Hukum Tata Negara UPN ‘Veteran’ Jakarta, Prof. Dr. Taufiqurrohman Syahuri, S.H.,M.H., dan Sekretaris Daerah Kab Brebes 2019-2025. Ir. Djoko Gunawan, M.T.
Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said dalam sambutannya mengatakan, Sarasehan 81 Tahun Pancasila sebagai pengingat tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila, yang dibahas oleh para pakar yang berkompeten dan diikuti oleh seluruh elemen dari unsur tokoh, akademisi, budayawan hingga mahasiswa dan generasi muda.
“Ini menjadi momentum untuk merayakan kebhinekaan sambil terus menjaga persatuan dan kesatuan sebagai salah satu semangat dari Pancasila,” ucapnya.
Pada sarasehan ini setiap yang hadir bisa memberikan berbagai pandangannya terkait dengan nilai-nilai Pancasila di era sekarang.
“Kita dialogkan kembali, kenang kembali dan resapi kembali apa yang makna dari nilai-nilai Pancasila,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Sudirman Said memiliki satu harapan jika para pengurus negara ini diberbagai level ataupun pengurus publik dapat mengamalkan satu persatu sila dari Pancasila tentunya akan membuat negara ini berkembang melesat meninggalkan masalah-masalah yang saat ini tengah dihadapi.
Dalam diskusinya narasumber yang hadir mempresentasikan nilai-nilai Pancasila.
Seperti Anggota Komisi X DPR RI Dr. H. Abdul Fikri Faqih yang mengungkapkan bahwa Pancasila sebagai pedoman kehidupan sehari-hari telah membentuk nilai-nilai untuk bisa saling menghormati, menghargai, bertoleransi, demokratis dan bersikap adil.
“Ini sudah melekat di kehidupan warga Tegal dan Brebes, dengan rasa saling mengormati dengan berbagai tradisinya seperti unggah-unggahan, rasulan, sambatan, moci, rembug desa. Hal itu sudah menerapkan nilai-nilai Pancasila,” katanya.
Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Mutainnah juga memaparkan implementasi kelima sila Pancasila dalam kebijakan publik.
Seperti pada sila pertama ia menegaskan bahwa negara atau pemerintah telah memberikan ruang yang sangat luas untuk kebebasan dalam memeluk agama.
Selanjutnya terkait sila kedua, yang secara prinsip menjadikan martabat manusia sebagai pusat orientasi kebijakan.
“ni bicara tentang manusia, bagaimana membuat kebijakan yang inklusif dan berpihak kepada kelompok-kelompok rentan,” jelasnya.
Kemudian terkait sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk merancang kebijakan yang menguatkan kondisi sosial dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Terkait sila keempat, pemerintah membuka ruang yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi. Karena menurutnya, pemerintah yang baik adalah yang dekat dengan masyarakat dan membuka pintu komunikasi dua arah antara pemerintah dengan masyarakat.
Selanjutnya terkait sila kelima, yakni memastikan pembangunan dapat secara merata dan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Diakhir pandangannya, Tazkiyyatul Muthmainnah menyampaikan sebuah refleksi bahwa kekuasaan itu berangkat dari kepercayaan yang harus disertai keterbukaan, menerima perbedaan dan kritik serta mau melakukan tindakan nyata sebagai solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat.
Radio Sebayu