
Pemerintah Kota Tegal menargetkan zero waste atau minim sampah di tahun 2029. Hal tersebut mencuat saat Rapat Koordinasi Penuntasan Sampah dan Percepatan Kinerja Pengelolaan Sampah Kota Tegal Tahun 2026, di Ruang Adipura, Balai Kota Tegal, Selasa (10/3/2026).
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Tegal, para Staf Ahli, para Asisten Sekda Kota Tegal, Kepala OPD, Camat dan Lurah se-Kota Tegal.
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal Yuli Prasetya mengatakan, tuntas sampah merupakan kondisi gaya hidup yang bertujuan meminimalkan atau menghilangkan sampah sama sekali untuk mencegah sampah atau limbah berakhir di TPA, dibakar, atau rembes dilingkungan. Konsep ini berfokus pada 5R yaitu Refuse, Reduce, Reuse, Recyle dan Rot.
Diartikan sebagai prinsip pengelolaan sampah untuk mencapai gaya hidup minim sampah (zero waste) dengan cara menolak barang sekali pakai, mengurangi konsumsi, menggunakan kembali barang, mendaur ulang limbah, dan mengompos sampah organik.
Yuli menargetkan zero waste pada 2029. Gerakan dan aksi kebersihan yang digalakkan seperti gerakan bersih-bersih atau kurve di setiap perkantoran, instansi, perusahaan dan sejenisnya yang dilakukan secara rutin memberikan pengaruh yang siginifikan dengan berkurangnya sampah.
“Pada Februari kemarin hanya ada 15 kantor yang melaksanakan kurve dan pada Maret ini adaa sebanyak 37 kantor yang rutin melakukan kurve dan melaporkan aksi rutinnya tersebut,” ucapnya.
Untuk target pengurangan sampah di tahun 2026 yakni 60% (106 ton perhari). Sementara kondisi saat ini baru 30%-nya (53 ton Perhari), sehingga diupayakan agar 53 ton sampah per hari bisa dikelola.
Upaya dari hulu, tengah dan hilir terus dilakukan seperti peran serta RT, RW, PKK dan penggerak masyarakat penting memastikan pilah sampah dan berjejaring dengan bank sampah. Memaksimalkan 180 bank sampah meskipun ekosistem pemberdayaannya perlu dioptimalkan. Termasuk menyempurnakan TPA Bokong Semar dan pemulihan TPA Muarareja.
Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengatakan, permasalahan sampah merupakan tantangan yang harus ditangani bersama. Kota yang bersih tidak hanya ditentukan oleh petugas kebersihan atau dinas terkait, tetapi juga oleh kesadaran dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Pada tahun 2026 ini, Pemerintah Kota Tegal menargetkan peningkatan capaian kinerja pengelolaan sampah dari 49,96 poin menjadi sekurang-kurangnya 65 poin, atau meningkat sekitar 15,04 poin. Target ini merupakan langkah menuju Kota Tegal yang bersih, sekaligus sebagai persiapan untuk meraih Adipura pada tahun 2028 dan Adipura kencana pada tahun 2029.
Untuk mencapai target tersebut, terdapat tiga hal utama yang harus diperkuat, yaitu pengurangan sampah, penanganan sampah, serta komunikasi, edukasi, dan informasi kepada masyarakat.
“Saya ingin menekankan bahwa edukasi kepada masyarakat merupakan kunci utama dalam pengelolaan sampah. Tanpa perubahan perilaku masyarakat, upaya pengelolaan sampah tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi harus terus diperkuat,” tegasnya.
Masyarakat perlu didorong untuk membiasakan pemilahan sampah dari rumah tangga, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memanfaatkan bank sampah sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan.
“Peran PKK, bank sampah, kader lingkungan, serta pengurus RT dan RW sangat penting dalam menggerakkan kesadaran masyarakat,” ucapnya.
Pihaknya berharap para Lurah dapat memastikan bahwa pemilahan sampah di tingkat rumah tangga benar-benar berjalan, sehingga di wilayah Kelurahan tidak ada lagi sampah liar.
Selain edukasi, juga harus memperkuat penyediaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai. dalam hal ini, Pemerintah Kota Tegal akan meningkatkan kapasitas TPST integrasi di Bokong Semar dari 20 ton menjadi sekitar 40 ton per hari. Selain itu, akan dibangun minimal lima TPST di tingkat Kelurahan guna meningkatkan kapasitas pengurangan sampah hingga sekitar 15 ton per hari.
Pengurangan sampah juga perlu dilakukan langsung dari sumbernya, seperti di rumah sakit, pasar, swalayan, tempat wisata, sekolah, dan perkantoran, dengan target pengurangan sekitar 5 ton.
Radio Sebayu