Radio Sebayu

Unik dan Seru, Maknai Harkitnas Lewat Lomba Tumpeng di Mal

Suasana meriah mewarnai lantai dasar Pacific Mall Kota Tegal, Jawa Tengah, Kamis (28/5/2026). Puluhan organisasi wanita berkumpul, beradu keahlian jemari dalam merangkai warna-warni lauk-pauk dan tumpeng dalam lomba menghias tumpeng bertajuk “OMG Land”.

Acara yang diinisiasi oleh Toko Mas Hidup Banjaran berkolaborasi dengan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Tegal ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026.

Ketua GOW Kota Tegal, Debby Firoeza, menegaskan bahwa esensi peringatan Harkitnas tahun ini sengaja dilekatkan pada pelestarian tradisi.

“Karena kita melaksanakan lomba tumpeng dalam rangka Harkitnas, jadi kita lantunkan lagu Indonesia Raya,” ujar Debby dalam sambutannya, menegaskan semangat nasionalisme yang mendasari acara tersebut.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthaminnah,S.K.M., M.Kes., menyampaikan apresiasi tinggi dari Pemerintah Kota Tegal atas inisiatif positif ini. Tazkiyyatul mengupas tuntas makna mendalam di balik sajian kuliner legendaris nusantara tersebut.

“Tumpeng bukan sekadar sajian makanan tradisional. Di balik bentuk dan susunannya, tumpeng memiliki filosofi yang sangat mendalam sebagai simbol rasa syukur, doa, serta harmoni antara manusia, alam semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa,” tutur Tazkiyyatul. Ia menjelaskan, bentuk kerucut pada tumpeng melambangkan gunung suci yang dalam filosofi Jawa menggambarkan hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta selaras dengan falsafah “tumapaking penguripan tumindak lempeng tumuju Pangeran” yang berarti menjalani kehidupan dengan lurus menuju rida Tuhan. Tak hanya bentuknya, lauk-pauk yang mengitari tumpeng juga sarat pesan kehidupan: ayam dan ikan melambangkan keseimbangan alam dan gotong royong, telur rebus lambang tekad bulat, serta sayur urap yang melambangkan kesuburan alam.

Melalui momen ini, Tazkiyyatul berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya memandang tumpeng sebagai komoditas kuliner, melainkan mampu memahami nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa yang terkandung di dalamnya.Antusiasme tinggi tampak sejak hiung mundur tanda kompetisi dimulai. Sebanyak 15 organisasi wanita—mulai dari IWPS, PPLIPI, WKRI, IPEMI, IWAPI, ALISA KHADIJAH, IKATRI, DPC SRIKANDI, HARPI, AISYIYAH, WI, FATAYAT, hingga MUSLIMAT langsung bergerak cepat.

Para peserta hanya diberi waktu tepat 45 menit untuk menyusun, menata, dan mempercantik tumpeng mereka. Ketepatan waktu, ketenangan, dan kerja sama tim menjadi ujian utama di tengah riuhnya penonton yang memadati mal. Tiga juri ahli dikerahkan untuk memberikan penilaian objektif, yaitu Ibu Solati S, S.Pd., MM., dan Ibu Fitri Riani, S.Pd. dari SMK Negeri 1 Tegal, serta Ibu Purwo Hadi S, SST., perwakilan ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kota Tegal.

Setelah waktu menghias habis, tim juri mendatangi meja peserta satu per satu untuk mencicipi rasa makanan. Terdapat empat kriteria utama yang menjadi penentu kemenangan: kelengkapan lauk-pauk, kreativitas dan kebersihan, kerapian dalam menata makanan, serta penggunaan garnish (hiasan) yang harus selaras dengan tema. Setelah melalui proses penilaian yang ketat dan alot, dewan juri akhirnya mengumumkan para pemenang yang berhasil membawa pulang trofi penghargaan. Gelar juara pertama berhasil diraih oleh Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) yang tampil memukau lewat keselarasan tema dan kerapian hidangan. Posisi kedua ditempati oleh Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI), disusul oleh perwakilan dari Ikatan Wanita Pancasakti Tegal (IWPS) yang sukses mengamankan posisi juara ketiga.

Sementara itu, apresiasi untuk kategori juara harapan juga diumumkan secara berurutan. Gelar juara harapan satu jatuh kepada Muslimat, diikuti oleh Ikatan Istri Anggota DPRD (IKATRI) sebagai peraih juara harapan kedua, dan ditutup oleh Fatayat yang membawa pulang predikat juara harapan ketiga.

Melalui kolaborasi lintas sektor antara pelaku usaha seperti Toko Mas Hidup, organisasi wanita (GOW), dan pemerintah daerah, kegiatan ini berhasil membuktikan bahwa pusat perbelanjaan modern pun bisa menjadi ruang yang hangat untuk melestarikan nilai-nilai kultural dan merajut kembali semangat kebangkitan nasional.

Scroll to Top