
Pendidikan tinggi yang bermutu sejatinya adalah hak semua orang, tak terkecuali bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Universitas Harkat Negeri berkomitmen mewujudkan ekosistem pendidikan yang setara dan inklusif.
Melalui penyediaan infrastruktur ramah disabilitas dan budaya akademik yang suportif, Harkat Negeri sukses mengantarkan Nur Istiqomah, mahasiswa dari Program Studi D-3
Desain Komunikasi Visual, menyelesaikan masa studinya dengan prestasi gemilang sebagai wisudawan inspiratif Universitas Harkat Negeri, pada Selasa (5/5/2026) di Sebayu Convention Hall, Bahari Inn Tegal.
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said menyerahkan apresiasi kepada Nur Istiqomah sebagai Wisudawan Inspiratif atas semangat, ketekunan, dan perjuangannya dalam membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, melainkan kekuatan untuk menginspirasi banyak orang melalui dunia ilustrasi.
“Penghargaan ini menjadi wujud komitmen Universitas Harkat Negeri sebagai kampus inklusif yang memberikan ruang, kesempatan, dan dukungan bagi setiap mahasiswa untuk tumbuh, berkarya, dan meraih mimpi tanpa batas,” kata Rektor.
Nur Istiqomah, atau yang akrab disapa Isti, meskipun dengan keterbatasan fisik, Isti dikenal sebagai seorang visual storyteller dan ilustrator cerita anak. Baginya, ilustrasi bukan sekadar gambar, melainkan cara untuk menyampaikan harapan kepada banyak orang.
“Karena lucu, penuh warna, dan menurut saya di ilustrasi anak itu sesuatu yang berat bisa disampaikan dengan ringan, penuh motivasi, optimisme, dan harapan,” ujar Isti dengan mata berbinar.
Dari karya-karyanya, ia ingin membagikan semangat hidup kepada siapa saja yang melihatnya. Di tengah segala keterbatasan yang ia hadapi, Isti justru menemukan kekuatan terbesar dalam dirinya. Ia percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pemicu kreativitas.
Perjalanan menuju wisuda tentu tidak mudah. Isti mengaku pernah berada di titik lelah, baik secara fisik maupun mental. Ada masa ketika ia ingin menyerah. Namun, kecintaannya pada ilustrasi anak membuat tekadnya kembali tumbuh lebih besar daripada rasa putus asa.
Tak hanya soal tenaga dan mental, keterbatasan ekonomi pun pernah menjadi tantangan tersendiri. Namun, keadaan itu tidak mematahkan semangatnya. Sebaliknya, Isti belajar untuk lebih kreatif dengan apa yang dimiliki.
Isti menyadari bahwa langkah hidupnya mungkin berbeda dengan orang lain. Ketika banyak orang harus berlari mengejar impian, ia memilih berjalan perlahan. Namun, ia yakin setiap langkah kecil tetap bisa membawa dampak besar.
“Kalau orang lain harus berlari, saya cuma bisa jalan pelan. Tapi saya yakin dengan tekad yang saya punya, berjalan pelan pun saya bisa menjangkaunya,” ungkap Isti.
Kini, perubahan terbesar dalam dirinya bukan terletak pada kondisi fisik, melainkan cara pandang terhadap hidup. Jika dulu ia terlalu fokus pada kekurangan dan hal-hal yang tidak bisa dilakukan, kini ia lebih memilih melihat apa yang mampu ia ciptakan dan dampak yang bisa diberikan kepada orang lain.
Bagi Isti, arti kata berdampak adalah ketika karya yang ia buat mampu mengubah sudut pandang seseorang, membangun optimisme, dan membantu orang lain menemukan jalannya sendiri.
Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Isti menyampaikan pesan yang begitu menyentuh untuk banyak orang, khususnya generasi muda.
“Fokus ke diri sendiri. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan berpikir tentang apa yang tidak bisa dilakukan, tapi pikirkan apa yang bisa dilakukan. Jadikan perbedaan itu sebuah keunikan, karena sedikit berbeda lebih baik daripada sedikit lebih baik,” kata Isti.
Radio Sebayu