Radio Sebayu

Omset Sarung Naik 300 Persen, Sarung Goyor Khas Tegal Masih Diminati dan Tembus hingga Pasar Afrika

Memasuki Ramadan hingga Lebaran kebutuhan sarung dan baju gamis sudah dipastikan mengalami peningkatan. Hal tersebut menyusul peningkatan permintaan masyarakat yang ingin merayakan Ramadan dan Lebaran dengan mengenakan sarung baru.

Peningkatan tersebut juga ditunjukkan oleh pengusaha sarung Tegal Jamaludin Ali Alkatiri, pemilik PT Asaputex Jaya.

Ia menyampaikan, omset untuk sarung lokal sebulan sebelum memasuki Ramadan sudah naik hampir 300 persen. Tidak hanya melayani pembeli atau agen saja, tetapi juga memanfaatkan marketplace pembelian secara online.

“Kenaikan omset sarung pasar lokal hampir 300 persen, ini sudah nampak sebulan terakhir sebelum Ramadan dan memanfaatkan pula penjualan secara online,” ucapnya.

Untuk marketplace atau penjualan secara online yang sebelumnya dalam sehari bisa mengirim 20-50 picis sarung, kini sudah mampu mengirim di atas 500 picis sarung yang dikirim ke 36 Provinsi yang ada di Indonesia.

“Peningkatan penjualan melalui marketplace saya akui memang sangat tajam, meskipun komisi dari marketplace terus meningkat. Ada yang dari 3 sekarang menjadi 30, dulu 11 sekarang jadi 17,” tuturnya.

Hal lain untuk jenis sarung goyor atau ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) khas Tegal menjadi salah satu sarung yang masih diminati masyarakat. Bahannya yang khas, terasa adem, lembut dan motifnya yang beragam, membuat sarung ini cocok untuk berbagai keperluan.

Bahkan sarung yang satu ini sudah mampu menembus pasar afrika untuk keperluan pakaian masyarakat di sana.

Jamal merasa bangga, lantaran sarung goyor khas Tegal mampu diminati konsumen, bahkan sampai luar negeri.

“Ada satu produk sarung goyor khas Tegal yang kelasnya premium dengan harga 500 ribuan, karena menggunakan benang impor dan corak yang rumit. Sarung goyor khas Tegal jenis Jabal Artha yang memiliki motif kekinian,” pungkasnya.

Scroll to Top