
Sebanyak 29 bangunan terdiri dari 28 rumah warga dan 1 bangunan gudang di RT 17 dan RT 18 RW 7 Kelurahan Panggung yang menempati lahan PT KAI diminta untuk dikosongkan atau pindah.
Hal tersebut menyusul adanya kebijakan PT KAI Daop 4 Semarang yang akan melakukan pengembangan depo loko, jalur pengisian BBM KA dan jalur untuk perbaikan KA.
Sebagai upaya untuk mewujudkan suasana kondusif PT KAI Daop 4 Semarang bersama Kecamatan Tegal Timur, Kelurahan Panggung, Forkopincam melaksanakan sosialisasi terkait kebijakan tersebut, Kamis (15/1/2026) di Pendopo Kelurahan Panggung.
Manager Aset PT KAI Daop 4 Semarang, Rifi Alda mengatakan bahwa kebijakan dari PT KAI akan melakukan pengembangan di sekitar Stasiun Tegal sudah direncanakan sejak tahun lalu. Dan pada tahun ini rencana tersebut akan direalisasikan sehingga terdapat beberapa rumah yang terdampak.
Yakni ada sebanyak 29 bangunan terdiri dari 28 rumah warga yaitu 23 rumah di RT 17 RW 7 dan 5 rumah warga di RT 18 RW 7 serta 1 bangunan gudang.
Rifi menegaskan bahwa pengosongan bangunan atau pembongkaran bangunan diminta sebelum pelaksanaan puasa Ramadan tahun ini. Sebab pengerjaan proyek pengembangan akan segera dilakukan.
“Pengosongan sebelum puasa, karena akan dilakukan segera untuk pengerjaan jalur perbaikan kereta dan jalur BBM,” ucapnya.
Untuk tahap sterilisasi lahan di Stasiun Tegal akan dilakukan secara bertahap, dan tahun-tahun mendatang tentu akan dilakukan pengembangan lagi. Sehingga bukan hanya rumah yang saat ini ditertibkan saja tetapi pemukiman yang lain juga bisa turut serta ditertibkan.
Rifi menjelaskan, pada proses perpindahan atau pembongkaran bangunan pihak KAI juga akan memberikan biaya atau ongkos bongkar. Untuk bangunan semi permanen diberikan sebesar Rp200.000 per meter persegi dan bangunan permanen diberikan sebesar Rp250.000 per meter persegi.
Manager Pengamanan Objek Vital PT KAI Daop 4 Semarang, Supriyanto menambahkan, bahwa melalui sosialisasi ini dimaksudkan agar semua warga secara jelas memahami kebijakan dari PT KAI terkait dengan pengembangan Stasiun Tegal.
“Intinya kami melaksanakan sosialisasi dan pemberian pemahaman agar semuanya berjalan kondusif. Warga mengerti dan PT KAI bisa mengakomodir keinginan warga,” ucapnya.
Herlina selalu Ketua RT 18 RW 7 Kelurahan Panggung menuturkan, di wilayahnya ada 5 rumah yang terkena dampak penertiban. Rata-rata sudah menghuni lama, dan sudah siap dengan keputusan dari KAI.
“Bagaimanpun kami menyadari bahwa lahan tersebut bukan milik kami, tetapi tentu kami meminta kebijaksanaan tentang waktu pembongkaran dan biaya bongkarnya,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Sukarti, warga yang terdampak kebijakan tersebut. Ia meminta pengunduran waktu pengosongan rumah. Pasalnya ia sudah berencana untuk mengadakan pernikahan anaknya.
“Mohon diundur pak, apalagi saya mau punya hajat menikahkan anak saya,” ucap Sukarti memelas.
Suprihanto selaku Ketua RW 7 Kelurahan Panggung juga meminta kebijaksanaan waktu pengosongan rumah termasuk biaya bongkar yang dinilai sangat minim. Ia menyatakan, saat pembongkaran bangunan rumah pada 12 tahun lalu, tarif biaya bongka yang diberikan untuk warga terdampak besarannya sama persis.
“Tolonglah PT KAI mempertimbangkan terkait ongkos atau biaya bongkar yang akan diberikan kepada warga. 12 tahun yang lalu besarannya dengan sekarang sama persis. Harusnya dinaikkan, seperti tarif KA yang juga bisa naik,” ucapnya.
Sementara Lurah panggung Rokhiman menyatakan, dengan adanya sosialisasi dan kebijakan dari PT KAI ini berharap tidak ada permasalahan apapun dan bisa berjalan kondusif.
“Melalui sosialisasi ini, saya berharap tidak ada gejolak, dan tidak ada keributan. Karena semuanya harus bisa menyadari dan juga harus bisa bersikap bijak,” katanya.
Kasie Pelayanan Masyarakat Kecamatan Tegal Timur Amin Suseno mengatakan, pertemuan dan sosialisasi ini adalah untuk saling mengerti keinginan kedua belah pihak baik warga yang terkena penertiban maupun PT KAI. Sehingga harapannya tidak ada gejolak saat batas waktu pengosongan.
“KAI juga harus bisa bijaksana kepada warga, sehingga diharapkan semuanya bisa menerima dan tidak ada gejolak,” tutur Amin.
Radio Sebayu