
Di setiap perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek di Kota Tegal ada salah satu kue yang khas untuk disajikan. Namanya kue keranjang, berbentuk bundar dan tebal seperti gula merah dengan warnanya yang coklat.
Kue keranjang yang dibuat dari tepung ketan memiliki filosofi agar di perayaan Imlek persaudaraan semakin lengket seperti ketan, dan berasa manis agar memiliki harapan hidup yang dijalani membuahkan hasil yang manis dan membahagiakan.
Di Kota Tegal produksi kue keranjang rutin dilakukan oleh Mindayani Wirjono (85) warga jalan Belimbing Kota Tegal sejak dulu. Hampir setiap tahun menjelang Imlek tiba.
Ia akan mempekerjakan karyawan langganannya untuk membuat adonan kue keranjang, mengemas adonan dan memasak atau memasukkan adonan tersebut ke dalam oven besar hingga menempeli stiker dan packing untuk dipasarkan ke berbagai daerah.
Namun ditemui Senin (12/1/2025), Mindayani mengungkapkan bahwa minat konsumen membeli kue keranjang saat sekarang ini mengalami penurunan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Selain karena memang sudah banyak pesaing yang membuat produk serupa, juga karena daya beli masyarakatnya yang sudah menurun. Masyarakat lebih memilih untuk membeli hal-hal yang lebih prioritas.
Sementara hampir setiap tahun beberapa jenis bahan baku mengalami kenaikan. Seperti gula pasir, gula merah dan tepung ketan.
“Gula pasir naik meski nggak begitu banyak. Tepung ketannya yang naik lumayan, dulunya cuma 17.500, sekarang sampai hampir 19.000 per kilo,” ucapnya.
Setiap harinya, Mindayani bersama 20 karyawannya memproduksi sebanyak 2-3 kwintal tepung ketan untuk dibuat kue keranjang.
Sementara dengan adanya kenaikan harga beberapa bahan baku pihaknya tidak serta Merta menaikkan harga jual kue keranjangnya
Untuk harga kue keranjang rasa original dijual seharga Rp26.000 per kilogram atau satu boks isi 4 kue keranjang. Kue keranjang rasa pandan seharga Rp27.000 per boks, dan rasa kakao seharga Rp30.000 per boks.
Pelanggan yang membeli tidak hanya dari Tegal dan sekitarnya saja tetapi juga ada pelanggan dari Bandung, Semarang dan Solo.
“Mereka yang biasanya ambil banyak, dari tahun kemarin dan tahun ini tetap membeli namun tidak banyak. Memang karena semuanya lagi sepi konsumen,” pungkasnya.
Radio Sebayu