
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal menyebutkan pertumbuhan Ekonomi Eks Karesidenan Pekalongan pada triwulan II 2025 tercatat 6,33%, berada di atas rata-rata pertumbuhan Provinsi Jawa Tengah yang sebesar 5,28%. Sementara pertumbuhan investasi di Eks-Karesidenan Pekalongan mencapai Rp4,5 triliun tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dengan dominasi industri pengolahan.
Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Tegal Noviyanto Utomo Focus Group Discussion Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal bersama Jurnalis 2025 di Kampung Casa Guci, (6-7 November 2025).
Kemudian perkembangan Kinerja Perbankan pada September 2025 yang meliputi Bank Umum (BU), Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), Bank Perekonomian Rakyat (BPR), serta Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di wilayah kerja Kantor OJK Tegal terjaga baik dan tumbuh positif, tercermin dari angka pertumbuhan yang positif yaitu pada sektor aset perbankan meningkat secara year on year (yoy) sebesar 2,06% menjadi Rp64,02 Triliun yang didukung oleh pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga serta penyaluran kredit.
Selanjutnya penghimpunan Dana Pihak Ketiga sektor perbankan di wilayah kerja Kantor OJK Tegal tercatat sebesar Rp48,69 Triliun atau tumbuh positif 8,47%yoy.
Fungsi intermediasi perbankan juga mengalami pertumbuhan meskipun cukup melambat, tercermin dari total penyaluran kredit/pembiayaan perbankan di wilayah Eks-Karesidenan Pekalongan meningkat sebesar 0,13% yoy menjadi Rp53,61 triliun.
Pada sektor non perbankan, yakni pegadaian swasta pada data pinjaman yang diberikan meningkat 43,77% atau mencapai Rp117 miliar. Perusahaan pegadaian swasta mencatatkan adanya peningkatan aset sebesar 47,98% yoy menjadi Rp137,03 miliar pada periode September 2025 dengan diikuti peningkatan penyaluran pinjaman secara signifikan.
Pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya penambahan jumlah perusahaan gadai yang telah memperoleh izin usaha di Wilayah Kerja Kantor OJK Tegal. Dari sebelumnya 4 menjadi total 5 perusahaan pergadaian.
Selanjutnya kinerja sektor pasar modal, jumlah investor pasar modal tumbuh konsisten, didominasi efek reksa dana (315 ribu SID) yang masih menjadi pintu masuk utama masyarakat di Eks-Karesidenan Pekalongan.
Namun ditinjau dari nilai transaksinya, masih didominasi transaksi pada efek saham. Per posisi Agustus 2025 nilai transaksi saham di wilayah Eks-Karesidenan Pekalongan mencapai Rp1,6 triliun, atau naik 27,86% yoy dengan pertumbuhan investor solid 33,56% yoy.
Nilai penjualan reksa dana juga menunjukkan momentum positif, dengan nilai transaksi reksa dana melesat 119,43% yoy.
Selain terkait pertumbuhan ekonomi, OJK Tegal juga telah mencabut izin 4 Lembaga Keuangan Mikro pada awal tahun. Hal itu dikarenakan tidak adanya pengurus yang bisa mengelola dengan baik. Kemudian pencabutan izin usaha atas permintaan pemegang saham (self liquidation) PT BPR Artha Kramat, Kabupaten Tegal.
Radio Sebayu