Radio Sebayu

Upaya Wujudkan Kota Bestari, Puskesmas Tegal Barat Salurkan Bantuan Sarana Pengolahan Sampah

Sebagai pelaksanaan program Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah di Kota Tegal, Puskesmas Tegal Barat sebagai orang tua asuh 4 RW di wilayah Kelurahan Tegalsari dengan jargonnya Kota Bestari yakni Kolaborasi Orang Tua Asuh Bersama Entaskan Sampah Tegalsari) memberikan bantuan sarana pengolahan sampah.

Penyerahan bantuan sarana pengolahan sampah rumah tangga, dilaksanakan di Aula Pertemuan Puskesmas Tegal Barat, Senin (15/6/2026).

Bantuan yang diberikan yakni keranjang botol bekas berukuran besar, timbangan elektronik, ember komposter, keranjang botol bekas berukuran sedang, dan galon komposter.

Sarana tersebut diberikan kepada RW 1, RW 5, RW 9, RW 13 di wilayah Kelurahan Tegalsari. Dengan lokus RT yang ditunjuk setiap RW yakni untuk RW 1 di RT 9, RW 5 di RT 7, RW 9 di RT 10 dan RW 13 di RT 2.

Kepala Puskesmas Tegal Barat drg. Evi Sukaesih, M.M.,M.H mengatakan, bahwa kesehatan tidak hanya dimulai dari meja periksa dokter, tetapi bermula dari kebersihan di setiap sudut rumah.

Sampah yang tidak terkelola dengan baik menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit, seperti demam berdarah, diare, hingga masalah pernafasan.

Dengan adanya gerakan Gropyokan Mberesi lan Nangani Sampah, Puskesmas Tegal Barat melalui program Kota Bestari (Kolaborasi Orang Tua Asuh Bersama Entaskan Sampah Tegalsari) menegaskan kembali sebuah prinsip dasar kesehatan yakni jika lingkungan yang sehat adalah pondasi utama bagi masyarakat yang produktif.

Oleh karena itu, Puskesmas Tegal Barat sebagai orang tua asuh sejumlah RW dengan lokus sejumlah RT di wilayah Kelurahan Tegalsari menyerahkan bantuan sarana tempat pengolahan sampah sebagai langkah nyata untuk mempermudah dalam melakukan pemilahan sampah dari sumbernya antara sampah organik dan anorganik. Sekaligus memanfaatkan sampah untuk dijadikan kompos ataupun eco enzim.

​”Dari sisa-sisa sampah organik seperti dedaunan dan sisa bahan dapur yang hanya menjadi beban di tempat pembuangan, kini bisa kita ubah menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman di lingkungan kita. Ini adalah solusi mandiri yang mudah, murah, dan bermanfaat bagi bumi kita,” ucapnya.

Evi juga menjelaskan terkait dengan kesehatan masyarakat yang sering kali dipahami hanya sebatas ketersediaan akses pengobatan di Rumah Sakit atau Puskesmas. Padahal hakikat dari adalah perpaduan antara pelayanan medis dan kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakatnya.

Karenanya melalui langkah ini diharapkan mengguhah kesadaran masyarakat untuk bersama-sampah peduli dengan kebersihan lingkungan dan mau memilah serta mengolah sampah.

​”Lingkungan yang kotor adalah akar dari berbagai persoalan kesehatan, mulai dari ancaman demam berdarah hingga penyakit pencernaan. Selama ini, sampah sering dianggap sebagai beban akhir yang harus dibuang ke tempat pembuangan. Padahal, jika dikelola dengan bijak dari sumbernya, sampah bisa menjadi sumber daya yang berharga,” jelas drg. Evi.

Melalui gerakan orang tua asuh, Puskesmas Tegal Barat juga ingin mengubah paradigma masyarakat terkait pembuangan sampah, dan setiap individu adalah agen kesehatan bagi lingkungannya sendiri. Melakukan pengelolaan sampah sebagai kebiasaan baru yang menjadi investasi kesehatan bagi keluarga dan generasi mendatang.

​”Kota yang sehat tidak hanya diukur dari betapa canggih fasilitas kesehatannya, melainkan dari betapa peduli warganya menjaga kebersihan lingkungan mulai dari rumah sendiri. Mari bergerak bersama untuk Tegal Barat khususnya wilayah Tegalsari yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Scroll to Top