Radio Sebayu

Dongkrak Eksistensi Budaya Daerah, DKT Gelar Workshop Penggunaan Medsos dan Aksi Melukis ‘On the Spot’

TEGAL – Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) secara resmi menggelar dua agenda besar sekaligus pada Sabtu (13/6).

Kegiatan tersebut berupa “Workshop Penggunaan Medsos untuk Publikasi Peristiwa Budaya” serta “Kegiatan On the Spot Melukis Alam”.

Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari kalangan pelajar dan masyarakat umum tampak antusias mengikuti rangkaian acara kesenian ini.​

Acara workshop yang berlokasi di Kampus Pusat Universitas Pancasakti (UPS) Tegal ini menghadirkan jajaran narasumber kompeten di bidang media, di antaranya Meiwan Dani Ristanto dari Radar Tegal, serta Nabila Agiesta dan Dwi Ariadi dari Suara Merdeka dan Puskapik.

Sementara itu, untuk aksi melukis langsung atau on the spot dilangsungkan di kawasan wisata Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal. Rangkaian acara dibuka secara bersamaan melalui prosesi pembukaan terpusat di Kampus UPS.​

Hadir membuka acara, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, Hermawan Fajar Arisandi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Menurutnya, inisiatif DKT ini menjadi ruang strategis untuk mengeksplorasi sekaligus mengasah bakat generasi muda, khususnya para pelajar di bidang seni dan budaya.​

Fajar juga menggarisbawahi pentingnya adaptasi digital bagi pegiat seni. Media sosial saat ini dinilai bukan lagi sekadar hiburan, melainkan instrumen vital sekaligus tolok ukur keberhasilan dalam upaya pelestarian budaya.

Melalui optimalisasi medsos, kekayaan budaya lokal Kota Tegal diharapkan mampu menembus kancah nasional hingga internasional.​

“Setelah mengikuti workshop ini, para peserta diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam melestarikan kebudayaan daerah dengan cara memperkenalkannya secara luas melalui kreativitas di media sosial,” ujar Fajar dalam sambutannya.

​​Di tempat yang sama, Ketua DKT Suriali Andi Kustomo menjelaskan bahwa esensi dari workshop ini adalah memantik gairah generasi muda agar tidak ragu mendokumentasikan dan mengunggah setiap geliat seni budaya di akun media sosial mereka.

Langkah ini dinilai efektif agar publikasi aktivitas seni di Kota Tegal semakin masif.​Meski dikemas dalam bentuk konten digital, Andi menekankan agar nilai-nilai objektivitas dan kebenaran informasi tetap terjaga layaknya produk jurnalistik formal.

​Terkait agenda melukis di Pantai Alam Indah, Andi berharap kegiatan tersebut mampu memperluas ketertarikan seni rupa di kalangan anak muda, sehingga ekosistem seni rupa di Kota Tegal tumbuh semakin solid dan berkelanjutan.

Ada fenomena menarik yang ia soroti dalam perkembangan seni rupa Tegal saat ini, yakni hilangnya sekat antargenerasi.​

“Seni rupa di Kota Tegal makin marak. Yang menarik, baik yang senior dan yang muda mampu bersinergi. Sesuatu yang sepertinya belum terjadi di masa sebelumnya,” tambahnya.​

Melalui penguatan di berbagai segmen seni ini, Andi berharap kontribusi nyata DKT dapat terus menjadi motor penggerak utama. Dengan demikian, apresiasi masyarakat terhadap karya seni akan tumbuh semakin luas, inklusif, dan membumi.​

Tidak berhenti pada pelatihan dan aksi lapangan, DKT juga tancap gas dalam ranah literasi. Pada bulan ini, mereka menjadwalkan peluncuran dua buah buku sekaligus sebagai wujud dokumentasi karya yang autentik.​

Buku pertama merupakan kumpulan 8 Naskah Teater yang diberi judul “Ndoro Luwak Langit Berkarat”. Sedangkan buku kedua merangkum perjalanan estetika visual lokal dengan tajuk “Wajah Seni Rupa Kota Tegal”. Langkah penerbitan ini diproyeksikan menjadi legacy penting bagi pemetaan sejarah dan perkembangan seni di Kota Bahari.

Scroll to Top