
TEGAL – Dunia anak-anak bukan sekadar tentang bermain, melainkan tentang keceriaan, kreativitas, dan ruang untuk tumbuh. Lebih dari itu, generasi muda kini memiliki kesempatan emas untuk menjadi pelopor pembangunan dengan menyuarakan aspirasi mereka di forum-forum resmi.
Semangat inilah yang dibawa oleh Forum Anak Tegal Bahari (FANTRI), sebuah wadah strategis bagi anak-anak di Kota Tegal untuk menyalurkan kreativitas sekaligus berpartisipasi aktif dalam menyuarakan hak-hak anak.
Hal tersebut dikupas tuntas oleh Ketua FANTRI Kota Tegal masa bakti 2026-2028, Medina Almayra, saat hadir sebagai narasumber dalam program Sapa Kota Tegal di Radio Sebayu FM pada Jumat (12/6/2026). Tidak sendiri, Medina hadir didampingi oleh Nikeisha Riski (Wakil Ketua FANTRI) dan Yasmine Adi (Koordinator Kecamatan Tegal Barat).
Dalam bincang-bincang hangat tersebut, Medina menjelaskan bahwa FANTRI memiliki segudang kegiatan positif yang menyentuh berbagai lini kehidupan, mulai dari aksi sosial hingga advokasi kebijakan.
“FANTRI dibentuk memang untuk menjadi rumah bagi anak-anak Kota Tegal. Kami ingin membuktikan bahwa di forum resmi seperti MUSRENBANG pun, suara anak-anak patut didengar agar kebijakan pemerintah ke depan bisa lebih ramah dan mempertimbangkan kebutuhan anak,” ujar Medina menjelaskan esensi organisasi tersebut.
Medina juga menyampaikan bahwa FANTRI memiliki banyak kegiatan baik dibidang sosial seperti penggalangan dana saat ada musibah tanah bergerak di Padasari, Jatinegara, kegiatan di bidang pendidikan seperti mengkampanyekan anti bullying di sekolah, maupun juga kegiatan bermain bersama yang dilakukan setiap CFD hari Minggu di depan Water Leiding Jalan Pancasila.
Sementara itu, Wakil Ketua FANTRI, Nikeisha Riski, menyoroti fokus mereka dalam mensosialisasikan gerakan anti-perundungan ke sekolah-sekolah. Ia menekankan pentingnya peran anak sebagai 2P, yaitu Pelopor dan Pelapor.
“Sebagai Pelopor, kita harus menjadi contoh aktif dalam menolak perundungan di lingkungan sekitar. Dan sebagai Pelapor, pengurus FANTRI siap bergerak cepat untuk melaporkan ke dinas terkait jika menemui atau mengetahui adanya kasus perundungan di sekolah. Kita tidak boleh diam melihat perundungan,” tegas Keisha dengan penuh semangat.
Pengalaman berharga dan keseruan menjadi bagian dari gerakan ini juga dirasakan langsung oleh Yasmine Adi selaku Koordinator Kecamatan Tegal Barat.
“Masuk FANTRI itu adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Kegiatannya sangat seru, menyenangkan, tapi di sisi lain juga punya manfaat yang besar untuk masyarakat. Jadi kita belajar organisasi sambil bermain,” ungkap Yasmine.
Senada dengan pengurus FANTRI, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPKBP2PA Kota Tegal, Achsin, juga menjelaskan tentang FANTRI.
“FANTRI merupakan singkatan dari Forum Anak Tegal Bahari. Merupakan forum anak resmi yang sudah di-SK-kan langsung oleh Walikota Tegal. Tugas utama FANTRI tentu saja tetap belajar, namun di samping itu mereka mengemban amanah sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor) yang bergerak mengkampanyekan hak anak di lingkungan sekolah sebagai duta anti-kekerasan, anti-bullying, hingga pencegahan anti-perkawinan anak,” ujar Achsin.
Di akhir sesi obrolan ketiganya dengan kompak menyampaikan harapan besar agar kehadiran FANTRI dapat memotivasi seluruh anak di Kota Tegal untuk hidup lebih bahagia, kreatif, dan berani bermimpi besar. Usia muda bukanlah halangan untuk menjadi agen perubahan dan pelopor pembangunan.
Medina pun menutup perbincangan dengan sebuah ajakan hangat yang penuh semangat bagi seluruh anak di Kota Tegal.
“Ayo ikut gabung di kegiatan FANTRI, dijamin seru!”
Radio Sebayu