
Pemerintah Kota Tegal melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal meluncurkan inovasi strategis bernama gerakan Gropyokan Nangani Mberesi Sampah sebagai solusi konkret dalam menghadapi darurat sampah yang kian mendesak. Berdasarkan data terkini, Kota Tegal menghasilkan timbulan sampah mencapai 177 ton per hari, namun hanya sekitar 30 persen yang telah dikelola dengan baik.
Kondisi ini menuntut langkah revolusioner, terutama dengan adanya kebijakan nasional mengenai larangan pembuangan terbuka atau open dumping di TPA yang mulai berlaku efektif pada 31 Juli 2026 serta target ambisius pencapaian Zero Waste pada tahun 2029. Hal tersebut dijelaskan oleh Yuli Prasetiya, S.KM., M.Kes. selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal saat agenda Pelatihan pilah dan olah sampah bagi ASN penggerak perubahan yang berlangsung di Ruang Rapat DLH Kota Tegal, Kamis, (07/05).
Gerakan ini mengedepankan pendekatan unik melalui sistem Orang Tua Asuh yang melibatkan ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai garda terdepan perubahan perilaku masyarakat. Para ASN ini ditugaskan menjadi kader penggerak yang bertanggung jawab memberikan edukasi langsung dari rumah ke rumah mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya. Fokus utama gerakan ini terletak di hulu karena lebih dari 60 persen sampah kota berasal dari aktivitas rumah tangga yang selama ini belum terpilah antara organik dan anorganik.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tegal juga menegaskan bahwa keterlibatan masif para ASN merupakan kunci keberhasilan gerakan gropyokan ini mengingat keterbatasan personel teknis di lapangan. Melalui pelatihan Training of Trainers (TOT) yang intensif, para penggerak dibekali kemampuan untuk melakukan internalisasi di lingkungan instansi masing-masing sebelum akhirnya terjun langsung ke tengah masyarakat untuk mempraktikkan pengelolaan sampah mandiri.
“Untuk menggerakkan masyarakat kan dibutuhkan orang-orang terlatih. Dan jumlah orang terlatih sendiri di Dinas Lingkungan Hidup kan tidak mencukupi, karena itu memang ada pendekatan gropyokan nangani lan beresi sampah ini dengan pendekatan orang tua asuh.” Jelas Yuli.
Beliau juga menekankan bahwa fokus utama pendidikan masyarakat adalah pada kemauan untuk memilah sampah. “Akar masalah ternyata ada di hulu ya, memang hulu di mana rumah tangga dan semacam sampah-sampah sejenis rumah tangga itu kan ada dan dihasilkan sangat tinggi. Untuk itu pelatihan pada saat ini memang menekankan supaya masyarakat betul-betul sadar, mau, dan mampu melakukan pilah dan olah sampah.” Tambahnya.
Melalui sinergi antara ASN sebagai Orang Tua Asuh dan masyarakat, diharapkan tercipta ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di mana sampah organik diolah menjadi kompos dan sampah anorganik diserap oleh jejaring bank sampah. Meski tantangan mengubah pola pikir masyarakat tidaklah mudah, optimisme tetap tinggi bahwa dengan gerakan yang masif dan berjamaah ini, Kota Tegal mampu bertransformasi menjadi kota yang bersih dan mandiri dalam pengelolaan sampahnya sebelum tenggat waktu tahun 2029 tiba.
Implementasi di lapangan akan semakin masif dengan adanya Sosialisasi Tingkat Kelurahan pada 13 Mei 2026, yang diikuti dengan publikasi dan praktik lapangan perdana atau pilot project di tingkat RT/RW mulai 20 Mei 2026. Seluruh rangkaian praktik gropyokan di lokasi sasaran ini akan terus dipantau melalui agenda monitoring dan evaluasi oleh Inspektur dari bulan Juni hingga Desember 2026. Selain pendampingan program inovasi yang berkelanjutan, pemerintah kota juga telah menyiapkan program penghargaan pada Desember 2026 bagi para pihak yang berkontribusi signifikan dalam mewujudkan Kota Tegal yang bersih dan mandiri sebelum tenggat waktu 2029.
Radio Sebayu